Enmicron Lab

AntiVirus and Security Software Solutions For Your Digital World

Arsip untuk ‘Astronomi’ Kategori

Berisi tentang kumpulan artikel luar angkasa.

2011, Pengguna Internet Kalahkan Pembaca Koran

Ditulis oleh enmicronlab di/pada September 28, 2009

Komputer Vs Koran

Tahun ini, konsumen media di Amerika Serikat diprediksi akan menghabiskan lebih banyak waktu mereka untuk mengakses Internet daripada membaca koran, pergi menonton film ataupun mendengarkan musik. Demikian dikutip Reuters, Kamis (9/8/).

Proyeksi ini merupakan bagian dari penelitian terbaru perusahaan Veronis Suhler Stevenson (VSS). Mereka menunjukkan pada para pengiklan untuk memperhatikan perubahan kebiasaan konsumen serta berinvestasi lebih banyak dalam perdagangan di ranah digital.

Tahun lalu, dua media iklan yang paling utama adalah koran, dengan belanja iklan US$55,7 miliar ($1 = Rp 9275, sumber: detikcom) diikuti televisi dengan jumlah uang iklan US$ 48,7 miliar. Namun pada tahun 2011, Internet diperkirakan bakal menjadi media iklan terbesar dengan jumlah transaksi yang beredar US$ 63 miliar.

Sementara itu pada 2006, konsumen menghabiskan sebagian besar waktunya di depan televisi dan kemudian radio. Kombinasi keduanya mencapai jumlah 70 persen dari total waktu yang dihabiskan orang untuk media. Rekaman musik berada di urutan selanjutnya dengan presentase 5,3 persen diikuti koran dengan 5 persen. Internet berada di urutan terakhir dengan presentase 5 persen saja.

Namun pada tahun 2007 ini, studi tersebut meramalkan bahwa presentase penggunaan Internet akan meningkat dengan mencapai angka 5,1 persen. Hal sebaliknya justru terjadi pada akses koran dan rekaman musik yang diprediksi akan turun menjadi 4,9 persen.

Di sisi lain, waktu yang dihabiskan untuk mengakses media juga akan lebih banyak di tempat kerja karena adanya Internet. Studi ini menandaskan bahwa akses terhadap media terutama Internet oleh pekerja meningkat sebanyak 3,2 persen pada tahun 2006, dan angka ini diprediksi akan terus tumbuh.

“Kebanyakan pekerja mempunyai akses komputer di meja mereka masing-masing, jadi secara tidak langsung mereka menggunakan jaringan internet untuk mempermudah pekejaan dan komunikasi”.

Ditulis dalam Astronomi | Leave a Comment »

10 Pemecahan Rekor di Didang Teknologi

Ditulis oleh enmicronlab di/pada September 26, 2009

Pemecahan rekor di dunia teknologi berkisar pada yang lebih cepat dan kapasitas yang lebih besar. Apa saja 10 pemecahan rekor di dunia teknologi yang terjadi sekarang ini? Berikut daftarnya:

1. Penyedia layanan internet wireless terbesar
DoCoMo di Jepang dengan 45 juta pengguna
Guinness World Record: Ya, tahun 2006

2. Rekor kecepatan internet di tanah
Rekor kecepatannya adalah pada kecepatan 7.67 Gbps yang dibuat pada tahun 2007 oleh University of Tokyo
Guinness World Record:Tidak

3. Penyebaran virtualisasi terbesar
Penyebaran Userful dan ThinNetwork dengan rekor 356,800 thin client di Brasil
Guinness World Record:Tidak

4. Konser di internet yang paling banyak ditonton
Siaran web Madonna di MSN pada tahun 2000 dengan mencatat kehadiran 11 juta penonton virtual
Guinness World Record: Ya

5. Prosesor desktop tercepat
Intel Core i7
Guinness World Record:Tidak

6. Gudang penyimpanan data terbesar
Sybase IQ analytics server
Guinness World Record: Ya, tahun 2008

7. Media switch dengan kapasitas tertinggi
Steelbox, digunakan untuk pengawasan, mendukung 512 video feed secara simultan.
Guinness World Record:Tidak

8. Superkomputer tercepat
IBM Roadrunner
Guinness World Record:Tidak

9. Ponsel paling ringan di dunia
Modu (modumobile.com) dengan berat hanya mencapai 40 gram
Guinness World Record:Tidak

10. Satelit komunikasi terbesar
Satelit TerreStar-1
Guinness World Record: Sedang dalam proses

Ditulis dalam Astronomi | Leave a Comment »

‘Perang’ Angkasa Google vs Microsoft Memanas

Ditulis oleh enmicronlab di/pada Maret 25, 2009

Seattle – Baru bulan lalu Google menghadirkan fitur untuk mengeksplorasi planet Mars secara online via Google Earth. Microsoft tampaknya gregetan sehingga mereka coba menyaingi Google dengan meningkatkan jumlah konten di layanan onlinenya yang juga bisa dipakai menjelajah angkasa via web, Worldwide Telescope.

Seakan tidak mau kalah dengan Google, Microsoft juga coba menghadirkan data data terbaru dari planet merah Mars. Dikutip detikINET dari VentureBeat, Rabu (25/3/2009), Microsoft menggandeng lembaga antariksa NASA untuk menyediakan data-data dan gambar angkasa tersebut.

‘Perang’ angkasa antara Google dan Microsoft tampaknya memang bakal terus sengit. Tidak hanya sebatas Mars saja, mereka juga berlomba-lomba mengeksplorasi area-aea lainnya di antariksa.

Microsoft sudah berencana untuk menggelontorkan lebih banyak data dan gambar resolusi planet-planet lainnya, termasuk juga bulan. Google lebih dulu punya banyak data serupa yang tersedia di Google Moon dan Google Sky.

Dengan demikian, siapa yang bakal jadi pemenang barangkali ditentukan siapa yang mampu menghadirkan konten paling bagus. Microsoft tampaknya amat serius soal ini. Sebab dalam kesepakatan terbaru dengan NASA tersebut, mereka berhak memperoleh akses data sebesar 100 terabytes.

“Membuat data astronomi NASA dapat diakses publik merupakan prioritas besar kami,” papar Ed Weiler dari NASA mengenai kesepakatan dengan Microsoft itu.

Ditulis dalam Astronomi | Leave a Comment »

Trio dari galaksi Mix

Ditulis oleh enmicronlab di/pada Maret 4, 2009

Hubble image of trio of galaxies

Release No. STScI-2009-10
Image Credit: NASA, ESA, and R. Sharples (University of Durham)

Though they are the largest and most widely scattered objects in the universe, galaxies do go bump in the night. The Hubble Space Telescope has photographed many pairs of galaxies colliding. Like snowflakes, no two examples look exactly alike. This is one of the most arresting galaxy smash-up images to date.

At first glance, it looks as if a smaller galaxy has been caught in a tug-of-war between a Sumo-wrestler pair of elliptical galaxies. The hapless, mangled galaxy may have once looked more like our Milky Way, a pinwheel-shaped galaxy. But now that it’s caught in a cosmic Cuisinart, its dust lanes are being stretched and warped by the tug of gravity. Unlike the elliptical galaxies, the spiral is rich in dust and gas for the formation of new stars. It is the fate of the spiral galaxy to be pulled like taffy and then swallowed by the pair of elliptical galaxies. This will trigger a firestorm of new stellar creation.

If there are astronomers on any planets in this galaxy group, they will have a ringside seat to seeing a flurry of starbirth unfolding over many millions of years to come. Eventually the ellipticals should merge too, creating one single super-galaxy many times larger than our Milky Way. This trio is part of a tight cluster of 16 galaxies, many of them being dwarf galaxies. The galaxy cluster is called the Hickson Compact Group 90 and lies about 100 million light-years away in the direction of the constellation Piscis Austrinus, the Southern Fish.

Hubble imaged these galaxies with the Advanced Camera for Surveys in May 2006.

The Hubble Space Telescope is a project of international cooperation between NASA and the European Space Agency (ESA) and is managed by NASA’s Goddard Space Flight Center (GSFC) in Greenbelt, Md. The Space Telescope Science Institute (STScI) conducts Hubble science operations. The institute is operated for NASA by the Association of Universities for Research in Astronomy, Inc., Washington, D.C.

STScI is an International Year of Astronomy 2009 (IYA 2009) program partner.

sumber:nasa

Ditulis dalam Astronomi | Leave a Comment »

Asal Usul Meteorit Mulai Terkuak

Ditulis oleh enmicronlab di/pada Juli 19, 2008

Saat melakukan pengamatan dengan teleskop GEMINI, 2 astronom asal Brazil dan Amerika berhasil menemukan asteroid yang mirip dengan “ordinary chondrite” (chondrite umum) untuk pertama kalinya. Maksutnya meteor tersebut merupakan meteor yang umum ditemukan di Bumi, namun masih belum bisa diketahui asal usulnya karena berbagai proses geologi yang terjadi setelah asteroid tersebut terlontar dari tempat asalnya.

Hasil pengamatan T. Mothé-Diniz (Brazil) dan D. Nesvorný (USA) menunjukan spektrum asteroid yang mereka temukan memiliki kemiripan dengan chondrite umum, yang merupakan materi meteor yang mirip dengan komposisi Matahari. Dari seluruh meteor yang jatuh di Bumi, sebagian besar diperkirakan berasal dari sabuk asteroid yang berada di antara Mars dan Jupiter. Tampaknya mereka terlontar setelah terjadi tabrakan dan masuk ke dalam orbit yang baru, dan pada akhirnya jatuh ke Bumi.

Meteorit dalam perjalanan sejarah tata Surya memiliki peran penting, karena ia merupakan alat utama dalam memahami sejarah Tata Surya. Komposisi meteor merekam proses geologi di masa lalu yang terjadi saat mereka masih bersatu dengan induknya (tubuh utamanya). Maksut induk atau tubuh utama disini adalah ada sbeuah asteroid yang kemudian ketika terjadi tabrakan melontarkan sejumlah materi keluar dan materi yang terlontar inilah yang kita kenal sebagai meteorit. Masalahnya, astronom seringkali gagal untuk menemukan induk si meteorit yang umum ditemukan di Bumi sehingga tak bisa diketahui spesimen asal si meteorit pada sabuk asteroid. Chondrites umum merepresentasikan 75% dari seluruh meteorit yang berhasil ditemukan.

Untuk menemukan asal sumber si meteorit, astronom harus membandingkan spektrum spesimen meteorit dengan asteroid yang diamati. Ini sulit, karena setelah terlontar keluar, proses yang berlangsung di dalam meteorit dan di dalam asteroid yang jadi induknya sudah berbeda. Umumnya, permukaan sering mengalami perubahan akibat proses “cuaca angkasa”, yang berasal dari pergerakan mikrometeorit dan angin matahari. Kedua komponen ini secara progresif merubah spektrum permukaan asteroid, sehingga spektrumnya jadi berbeda dari meteorit yang yang terkait dengannya.

Tabrakan merupakan proses utama yang mempengaruhi asteroid. Akibat dari tabrakan yang besar, asteroid bisa pecah dan fragmen pecahannya akan mengikuti orbit si asteroid tadi. Pecahan-pecahan inilah yang dikenal juga sebagai keluarga asteroid. Sampai saat ini kebanyakan keluarga asteroid yang dikenal sudah sangat tua terbentuk sekitar 100 juta tahun lalu. keluarga yang baru lebih sulit dideteksi karena letak asteroid yang sangat berdekatan satu sama lainnya. Pada tahun 2006, 4 asteroid mua baru ditemukan dengan rentang usia antara 50000 – 600000 tahun. Fragmen ini seharusnya maish belum banyak dipengaruhi cuaca angkasa setelah terjadinya perpecahan akibat tabrakan.

Arkansas Center for Space and Planetary Sciences, University of Arkansas

Pengamatan yang dilakukan Mothé-Diniz dan Nesvorný pada keluarga asteroid muda tersebut dilakukan menggunakan teleskop Gemini (di Hawaii dan Chile) dan hasilnya kemudian dibandingkan dengan meteorit Fayeteville. hasilnya terdapat kemiripan pada chondritenya. Penemuan ini merupakan yang pertama kalinya dalam hal kecocokan antara hasil pengamatan dan hasil penemuan meteorit yang ada di Bumi. Dengan demikian titik cerah untuk mengetahui asal usul induk dari meteorit yang ditemukan di Bumi semakin membuka peluang untuk memahami lebih jauh lagi sejarah Tata Surya.

Sumber : A&A

Ditulis dalam Astronomi | Leave a Comment »

Roket Indonesia, Kenapa Tidak Kita Buat Sendiri?

Ditulis oleh enmicronlab di/pada Juli 19, 2008

nggieng

Pada tanggal 2 Juli 2008 yang baru lalu, untuk kesekian kalinya Indonesia berhasil meluncurkan roket yang merupakan hasil karya anak bangsa. Roket-roket buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tersebut merupakan hasil pengembangan riset dan teknologi yang panjang dalam upaya mengembangkan kemandirian teknologi dirgantara Indonesia. Peluncuran roket dilakukan di Stasiun Pengamat Dirgantara milik LAPAN di Pameungpeuk Garut, yang merupakan situs peluncuran roket milik Indonesia.Kendati belum sebesar roket-roket pengangkut wahana antariksa seperti roket Apollo, roket-roket yang diuji tersebut memiliki berbagai kemampuan sesuai dengan kebutuhan, dan yang paling penting bisa memberikan harapan bahwa bangsa Indonesia masih bisa bersaing dengan negara lain dalam persaingan teknologi.

Acara peluncuran dimulai pada dini hari saat Matahari menyingsing, dan disaksikan oleh banyak sekali lapisan masyarakat. Acara tersebut semula akan dihadiri oleh Menristek Bapak Koesmayanto Kadiman, tetapi beliau berhalangan karena mendadak dipanggil Presiden SBY. Di antara tamu yang hadir juga ada pakar-pakar peroketan dari China, di samping beberapa tokoh masyarakat lain yang ikut hadir untuk menyaksikan peluncuran roket, seperti bapak Ninok Leksono, wartawan senior Kompas yang juga pemerhati teknologi dirgantara Indonesia. Adapun acara tersebut memiliki dua tujuan, pertama untuk menguasai pembuatan roket peluncur satelit, yang kedua untuk menyebarluaskan minat terhadap teknologi peroketan di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa Indonesia.

Nggieng

Dalam dasawarsa mendatang, Indonesia diwakili LAPAN, diharapkan berhasil mengembangkan Roket Pengorbit Satelit bertingkat 4. Oleh karena itu, Roket RX 320 merupakan uji pengembangan untuk mencapai kemampuan tersebut. Dan ini merupakan menu utama peluncuran roket. Roket tersebut mempunyai daya dorong sebesar 52 ton/detik yang merupakan roket tingkat paling atas dari roket pengorbit satelit (RPS), sedangkan 3 roket dasarnya adalah Roket RX 420.

Nggieng

Ada 18 roket yang diluncurkan pada kegiatan tersebut, dengan berbagai kategori roket, mulai dari roket RK 70 (diameter luar roket 70 mm, 100% local content), Roket RX 320 (diameter 320 mm, roket balistik), Roket RKX 10T03 (diameter 114 mm, roket kendali), dan Roket RUM (Roket untuk lomba muatan-roket Tingkat Universitas) diluncurkan sebagai penutup acara.

Nggieng

Roket RUM (Roket Uji Muatan) adalah roket-roket kecil yang merupakan model untuk lomba muatan roket tingkat Perguruan Tinggi. Roket ini bisa dibangun sendiri oleh mereka yang berminat karena disusun dari bahan-bahan sederhana, yang bisa diperoleh dari bahan-bahan sehari-hari. Bagian dalam roket tersebut terdiri dari sebuah spanduk yang akan mengembang pada suatu titik setelah peluncuran dan sebuah alat pengukur telemetri. RUM ini akan dibagikan kepada mahasiswa peserta lomba peroketan yang dijadwalkan bulan Agustus 2008 di Pantai Pandansimo Yogyakarta.

Jadi, siapa mau membuat roket sendiri? Bagi peminat serius, silakan menghubungi LAPAN.

Nggieng

sumber : langitselatan

Ditulis dalam Astronomi | Leave a Comment »

Penemuan Trio Planet Super-Bumi

Ditulis oleh enmicronlab di/pada Juli 8, 2008

ESO

Panen planet superBumi sedang terjadi. Tak percaya? Hari ini, dalam konferensi internasional Extra-solar Super-Earth, tim dari Eropa melaporkan penemuan planet super Bumi yang baru. Tidak tanggung-tanggung, mereka menemukan 3 buah planet superBumi tengah mengelilingi bintang HD 40307. Sistem tiga planet tersebut ditemukan menggunakan instrumen HARPS milik ESO La SIlla Observatory. HARPS sendiri terhitung telah menemukan 45 kandidat planet dengan massa dibawah 30 massa Bumi dengan periode orbit kurang dari 50 hari. Dengan demikian, bisa dikatakan satu bintang serupa Matahari setidaknya memiliki 3 planet kecil tersebut.Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah setiap bintang tunggal memiliki planet? Jika betul, berapa banyak? Menurut Michel Mayor dari Observatorium Geneva, “Kita tidak mengetahui jawabannya, namun kita sedang membuat sebuah kemajuan besar menuju ke sana.”

Michel Mayor dalam dunia extrasolar planet merupakan orang pertama yang menemukan keberadaan planet di luar Tata Surya pada bintang serupa Matahari, yakni pada bintang 51 Pegasi. Semenjak penemuan di tahun 1995 tersebut, sampai saat ini sudah lebih dari 270 exoplanet yang ditemukan, sebagian besar mengelilingi bintang serupa Matahari. Sebagian besar planet yang telah ditemukan merupakan planet gas raksasa seperti Jupiter dan Saturnus dengan statistik 1 dari 14 bintang akan memliki planet gas raksasa.

Menurut Stéphane Udry yang juga kolega dari Michel Mayor, dengan kebangkitan instrumen yang semakin presisi seperti spektograf HARPS pada teleskop 3,6 meter milik ESO di La Silla, planet-planet kecil dengan massa di antara 2 dan 10 massa Bumi dapat ditemukan. Planet jenis ini dikenal dengan nama planet SuperBumi, karena mereka lebih masif dari Bumi namun tidak semasif Uranus dan Neptunus (sekitar 15 massa Bumi).

Trio superBumi yang baru ditemukan tersebut mengelilingi bintang yang hanya sedikit kurang masif dari Matahari dan berada pada jarak 42 tahun cahaya ke arah selatan Doradus dan konstelasi Pictor. Menurut Mayor, mereka telah melakukan pengukuran yang sangat presisi terhadap kecepatan bintang HD 40307 selama 5 tahun terakhir. Hasilnya tampak jelas keberadaan 3 planet tersebut. Trio planet yang mengelilingi HD 40307 tersebut memiliki massa masing-masing 44,2, 6,7 dan 9,4 massa Bumi, dan mengitari bintang tersebut dengan periode orbit 4,3, 9,6 dan 20,4 hari.

Gangguan yang diakibatkan oleh planet pada bintang sangatlah kecil. Sangat berbeda dengan gangguan yang diakibatkan oleh planet gas raksasa pada bintang. Pada sistem tiga planet ini, massa planet terkecilnya lebih kecil 100.000 kali dari massa bintang. Dengan demikian, hanya instrumen yang memiliki sensitivitas tinggi yang dapat mendeteksi gangguan yang terjadi. Dan dalam kasus trio planet superBumi ini, HARPS berhasil mendeteksi gangguan setiap planet yang ditimbulkan pada bintang, begitu yang dikatakan François Bouchy, dari Institut d’Astrophysique de Paris, Prancis. Bahkan sebenarnya, setiap planet itu hanya memengaruhi gerak si bintang dalam kecepatan beberapa meter per detik.

Pada konferensi yang sama, tim astronom juga mengumumkan penemuan 2 sistem keplanetan yang lain, yang juga ditemukan dengan menggunakan spektograf HARPS. Sistem keplanetan yang pertama merupakan sistem dengan 1 planet super Bumi (7,5 massa Bumi) yang mengorbit bintang HD 181433 dalam 9,5 hari. Bintang HD 181433 juga memiliki sebuah planet sekelas Jupiter dengan periode hampir 3 tahun. Sistem kedua merupakan sistem yang terdiri dari planet dengan massa 22 massa Bumi dengan periode orbit 4 hari dan sebuah planet mirip Saturnus dengan periode orbit 3 tahun juga.

“Jelas ini hanyalah puncak gunung es”, kata Mayor. Analisis yang dilakukan pada semua bintang yang dipelajari oleh HARPS menunjukkan, sepertiga dari seluruh bintang bertipe Matahari memiliki planet superBumi atau planet sekelas Neptunus dengan periode orbit kurang dari 50 hari. Planet dengan periode orbit pendek lebih mudah ditemukan dibanding planet yang memiliki periode orbit panjang.

Sangat memungkinkan, di luar sana ada lebih banyak planet yang tengah menanti untuk ditemukan. Bukan saja planet super Bumi dan planet tipe Neptunus dengan periode orbit yang panjang, namun juga planet tipe Bumi yang belum bisa dideteksi saat ini. Tambahkan juga dalam deretan planet-planet itu, planet tipe Jupiter yang sudah ditemukan. Dan dari penemuan yang ada bisa disimpulkan kalau planet tipe Jupiter ini ada dimana-mana.

Sumber : ESO

Ditulis dalam Astronomi | Leave a Comment »

Planet Seukuran Bumi Mengorbit Bintang Bermassa Rendah

Ditulis oleh enmicronlab di/pada Juli 8, 2008

Ratusan exoplanet raksasa mengorbit dekat sekali dengan bintang sekelas Matahari sudah dideteksi dengan mudah. Tapi astronom juga ingin mendeteksi planet seukuran Bumi. Dan kini hal seperti itu bukan lagi hal yang mustahil. Kolaborasi antara astronom-astronom yang tergabung Microlensing Observations in Astrophysics (MOA) dan Optical Gravitational Lensing Experiment (OGLE) berhasil mendeteksi planet bermassa tiga kali massa Bumi.

NASA Exoplanet Exploration Program

Planet yang disebut MOA-2007-BLG-192L b ini mengorbit bintang bermassa 0,06 kali massa Matahari. Bintang sekecil ini digolongkan bintang katai cokelat. Perhitungan lain menunjukkan bintang tersebut bermassa 0,08 kali massa Matahari – masih digolongkan bintang bermassa sangat rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa bintang bermassa sangat rendah pun bisa mempunyai planet. Hal ini penting sebab selama ini planet dideteksi di sekitar bintang yang massanya tidak kurang dari 0,2 kali massa Matahari.

Jarak MOA-2007-BLG-192L b mengorbit bintang induknya setara dengan dengan jarak Venus mengorbit Matahari. Bintang induknya sendiri 3000-sejuta kali lebih redup dari Matahari. Atmosfer planet yang demikian sepertinya akan lebih dingin dari Pluto. Namun demikian, planet bisa saja memiliki atmosfer yang tebal sehingga temperatur atmosfer bawah lebih hangat. Bahkan bisa jadi pemanasan interior akibat peluruhan radioaktif cukup menghangatkan permukaannya sehangat Bumi. Teori lain mengatakan permukaannya tertutup lautan dalam.

David Bennett

Planet terkecil yang ditemukan mengorbit bintang normal ini, dideteksi dengan teknik yang disebut gravitational microlensing. Cahaya dibelokkan ketika melintas di dekat objek masif, misalnya bintang. Gravitasi dari massa bintang pelensa melengkungkan ruang di sekitarnya dan berperan seolah kaca pembesar raksasa. Fenomena yang diprediksi oleh ilmuwan besar Albert Einstein ini menyebabkan bintang latar belakang (source) seolah-olah bertambah cerlang. Efek ini hanya bisa dilihat jika teleskop astronom berada tepat segaris dengan bintang sumber dan bintang pelensa. Kesempatan seperti ini langka; dan itulah tantangannya. Planet yang mengorbit bintang pelensa bisa dideteksi bila cahaya bintang latar belakang juga dibelokkan oleh planet tersebut.

Temuan ini membuktikan prediksi Bennett dan Sun Hong Rhie pada tahun 1996. Mereka menduga metode microlensing sanggup mendeteksi planet semassa Bumi. Nah, rasanya “pertemuan” dengan planet serupa Bumi sudah semakin dekat. Semoga.

Sumber: University of Notre Dame News Release

Ditulis dalam Astronomi | Leave a Comment »

Pulsar Ganda Membuktikan Kebenaran Teori Gravitasi Einstein

Ditulis oleh enmicronlab di/pada Juli 6, 2008

Michael Kramer, University of Manchester

Tahun 1919, saat terjadi gerhana Matahari, untuk pertama kalinya teori relativitas umum milik Albert Einstein diuji oleh para astronom. Saat ini, gerhana dari sepasang sistem unik yang terdiri dari dua buah bintang mati yaitu pulsar, menunjukkan jika salah satu pasangannya bergoyang di angkasa. Efeknya, presesi yang terjadi ternyata sama dengan yang diprediksi oleh Einstein. Dengan demikian, teori Einstein kembali teruji dan bisa dikonfirmasi. Penemuan ini dilakukan oleh tim peneliti dari The University of Manchester’s Jodrell Bank Centre for Asthrophysics.Sistem bintang tersebut terdiri dari 2 pulsar yang terbentuk saat sepasang bintang masif meledak dan intinya runtuh, membentuk objek dengan massa lebih besar daripada massa Matahari. Namun, meskipun massanya lebih besar dari Matahari, objek tersebut mengalami pemampatan sampai ukurannya hanya mencapai ukuran sebuah kota di Bumi ini. Bintang pulsar ini berputar dengan kecepatan yang sangat menakjubkan dan memancarkan gelombang radio. Kedua pulsar tersebut PSR J0737-3039A/B, merupakan satu-satunya pasangan pulsar di Bimasakti yang diketahui terkunci dalam sebuah sistem yang orbitnya sangat dekat. Bahkan seluruh sistem pulsar ini bisa masuk dalam Matahari … jadi bisa dibayangkan orbitnya yang sangat dekat satu sama lain.


Daniel Cantin, DarwinDimensions. McGill University

Kedua pulsar tersebut ditemukan tahun 2003 dengan Teleskop Radio Parkes di Australia, dan sejak saat itu denyutan pulsar tersebut pun diamati secara terus menerus menggunakan beberapa teleskop, termasuk teleskop Lovell di Jodrell Bank dan Green Bank Telescope di Amerika Serikat. Pulsar ganda ini menciptakan kondisi ideal yang memungkinkan teori relativitas umum diuji karena semakin besar dan semakin dekat dua objek masif satu sama lain, efek relativistik yang terjadi juga semakin penting.Pulsar ganda merupakan tempat terbaik untuk menguji relativitas umum karena memiliki medan gravitasi yang sangat kuat. Menurut prediksi Einstein, dalam medan yang sangat kuat tersebut, sumbu rotasi objek akan mengalami presesi dan berubah arahnya secara perlahan saat pulsar tersebut mengorbit pulsar pasangannya. Sayangnya, pulsar terlalu kecil dan juga terlalu jauh untuk dapat diamati gerakannya secara langsung. Namun, karena keduanya mengorbit setiap 145 menit, saat salah satu pulsar berpapasan dengan pulsar pasangannya, astronom akan langsung bisa mengukur arah dan putaran sumbu si pulsar itu. Kok bisa? Ternyata, pada saat berpapasan dengan pulsar pasangannya atau saat terjadi gerhana, area magnet yang ada di sekitarnya menghalangi gelombang radio yang dipancarkan dari pulsar pasangannya. Setelah pengamatan dilakukan selama empat tahun, bisa dilihat jika putaran sumbunya memang mengalami presesi seperti yang diprediksi Einstein.

Sumber : Jodrell Bank Observatory

Ditulis dalam Astronomi | Leave a Comment »

Ledakan Bintang Netron Membentuk Bintang Quark

Ditulis oleh enmicronlab di/pada Juli 6, 2008

NSF / Palomar

Jika terjadi ledakan pada bintang tipe tertentu yang sangat jarang atau tipe bintang yang khusus, dan ledakan yang terjadi itu super terang maka bisa jadi ledakan tersebut merupakan awal terbentuknya objek tipe baru yakni bintang quark.Tiga supernova yang terangnya termasuk pengecualian karena super terang berhasil diamati pada saat ini. Satu di antaranya diamati dengan teleskop robotik di Observatorium Palomar milik California Institute of Technology (Caltech). Data yang dikumpulkan teleskop Oschin ditransimisikan dari secara remote ke para astronom melalui High-Performance Wireless Research and Education Network(HPWREN). Supernova yang diamati itu adalah SN2005gj.

Analisa SN2005gj dan 2 supernova lainnya menunjukan setiap supernova tersebut merupakan tanda dari ledakan dari bintang netron menjadi bintang quark. Masing-masing supernova itu memiliki kecerlangan 100 kali lebh terang dari supernova pada umumnya. Dan ledakan ketiga supernova ini diduga merupakan tanda awal terbentuknya objek kelas baru yang belum teramati sebelumnya yakni bintang quark.

Bintang quark merupakan tipe bintang hipotetik. Bintang tersebut tersusun dari materi quark yang sangat rapat. QUark sendiri merupakan komponen dasar dari proton dan netron, yang membentuk inti atom. Sampai saat ini objek yang paling rapat yang kita kenal adalah bintang netron, yang tersusun dari netron yang sangat rapat dengan diameter 16 mil dan massa hanya 1,5 kali massa Matahari.

Chandra Harvard

Bintang netron terbentuk saat bintang masif mengalami ledakan supernova pada masa akhir hidupnya. Pertanyaannya, apakah bintang netron merupakan objek yang paling rapat yang ada?

Jika bintang netron sudah sangat padat dimana bintang netron ini jadi terlalu rapat, diperkirakan akan terjadi ketidakstabilan yang akan memicu terjadinya keruntuhan, yang kemudian menyebabkan terjadinya ledakan yang membentuk bintang quark. Energi yang menyebabkan terjadinya ledakan kedua ini berasal dari netron yang terpecah menjadi komponen-komponennya yakni quark.

Sumber : NSF

Ditulis dalam Astronomi | Leave a Comment »